Pernah nggak, kamu merasa sudah kerja jungkir balik tapi nggak pernah dapat apresiasi dari atasan? Yang sering dapat pujian malah yang caper atau bermuka dua. Sementara kamu, yang sering kebagian tugas berat dan rumit, malah nggak dianggap.
Kamu bukan haus pujian, tapi sebagai manusia, kita pasti butuh sedikit pengakuan biar tetap semangat, kan?
Nah, ini masalah klasik di banyak tempat kerja. Apresiasi memang penting, tapi sayangnya, banyak yang lebih pintar membangun citra diri daripada benar-benar menyelesaikan masalah. Nggak semua orang yang "terlihat" bekerja keras, sebenarnya lebih produktif dari kamu. Mereka cuma lebih pintar "menjual" diri.
Apa yang bisa kamu lakukan? Pertama, jangan diam. Komunikasikan progres pekerjaan kamu dengan cara yang elegan. Bukan dengan bilang, "Itu gue yang ngerjain, bos!" Tapi lebih banyak diskusi, tanya pendapat, atau bikin laporan yang jelas soal apa yang sudah kamu kerjakan.
Ingat, dunia ini emang nggak selalu adil. Tapi percaya deh, Allah nggak tidur. Usaha kamu yang nggak terlihat sekarang, mungkin akan dihargai di tempat lain atau di masa depan. Tetap sabar, terus berdoa, dan jangan lupa jaga komunikasi yang baik di tempat kerja.
Kalau kamu lagi merasa lelah, coba rutinkan tahajud. InsyaAllah, hatimu akan dilapangkan.
Stay strong, kamu nggak sendiri.
Cara Menghadapi Orang dengan Kepribadian Narsistik
Assalamualaikum, teman-teman semua! Apa kabar? Semoga kalian dalam keadaan sehat dan bahagia. Kali ini, aku ingin berbagi sedikit pemikiran tentang bagaimana menghadapi orang dengan kepribadian narsistik (NPD), terutama di lingkungan kerja. Belakangan ini, aku menduga bahwa atasanku memiliki ciri-ciri orang dengan NPD. Memang ini hanya dugaan, tapi berhadapan dengan orang seperti ini benar-benar menguras energi mental.
Apakah kalian pernah merasa lelah berhadapan dengan orang yang suka merendahkan orang lain hanya untuk terlihat lebih unggul? Orang yang memiliki kepribadian narsistik biasanya ingin membuat orang lain merasa rendah di hadapannya. Dia merasa paling benar dan superior, sementara orang lain dianggap tidak lebih dari alat untuk mencapai tujuannya.
Tanda-Tanda Orang dengan NPD
Salah satu ciri khas dari orang dengan kepribadian narsistik adalah mereka sangat tidak bisa menerima kritik. Bahkan saran yang membangun pun sering kali dianggap sebagai serangan pribadi. Mereka cenderung menyerang balik, membuat kita merasa kecil atau tidak berarti. Aku pernah mengalaminya, di mana bosku langsung menyerang secara pribadi saat aku mencoba memberikan ulasan tentang pekerjaannya. Rasanya seperti ditusuk di depan umum, dan harga diri kita benar-benar terkoyak.
Di saat itulah, aku belajar dari kisah Nabi Adam AS. Ketika beliau dijebak oleh iblis dan diturunkan ke bumi, Nabi Adam tidak menyalahkan iblis. Beliau fokus pada dirinya sendiri, mengakui kesalahannya, dan berdoa kepada Allah. Ini memberikan pelajaran penting bahwa dalam menghadapi orang seperti itu, kita perlu menerima situasi terlebih dahulu dan fokus pada perbaikan diri, bukan pada orang yang menyakiti kita.
Cara Menghadapi Orang Narsistik
Terima Keadaan: Jangan fokus pada kesalahan orang lain. Belajarlah untuk menerima situasi dengan lapang dada. Fokus pada apa yang bisa kita kontrol, yaitu diri kita sendiri.
No Reaction, No Interaction: Orang narsistik senang melihat reaksi negatif dari orang lain. Jika memungkinkan, hindari memberikan reaksi berlebihan atau interaksi yang tidak perlu. Cukup berkomunikasi sebatas keperluan.
Tahajud dan Sholawat: Salah satu cara yang aku gunakan untuk menjaga ketenangan adalah dengan memperbanyak tahajud dan sholawat. Ini benar-benar membantu menstabilkan emosi dan memberikan ketenangan jiwa. Sebelum bertemu orang seperti itu, bacalah sholawat dalam hati untuk menjaga ketenangan batin.
Dokumentasi: Jika memang harus berinteraksi, pastikan semua komunikasi terdokumentasi dengan baik. Catat percakapan atau ajak saksi jika perlu.
Fokus pada Jobdesk: Jika sudah jelas bahwa hubungan dengan orang tersebut hanya transaksional, fokuslah pada pekerjaan sesuai dengan jobdesk. Jangan berharap lebih, apalagi mencoba untuk membuat hubungan lebih personal.
Kesimpulan
Menghadapi orang dengan kepribadian narsistik memang tidak mudah, tapi bukan berarti kita harus ikut terseret dalam drama mereka. Fokuslah pada diri sendiri, jaga ketenangan batin, dan percayalah bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menghadapi situasi seperti ini dengan bijaksana.
Jangan lupa, selalu jaga hati dan pikiran kita dari sifat sombong dan narsistik, karena pada dasarnya orang yang sombong itu adalah orang yang lemah dan tidak percaya diri.
Semoga tulisan ini bisa membantu kalian yang sedang menghadapi situasi serupa. Terus kuat ya, dan jangan lupa berdoa!
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Mengenal NPD dan Cara Menghadapinya: Sebuah Refleksi
Dalam interaksi sehari-hari, kita mungkin pernah merasa kehabisan energi setelah berkomunikasi dengan seseorang. Apalagi jika percakapan sederhana malah berlarut-larut hingga berjam-jam tanpa hasil yang jelas. Pernahkah terpikir bahwa mungkin kita sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki Narcissistic Personality Disorder (NPD)?
NPD adalah gangguan kepribadian di mana seseorang merasa sangat penting, membutuhkan perhatian berlebih, kurang empati, dan cenderung memanipulasi orang lain untuk mencapai tujuannya. Orang dengan NPD sering kali tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sangat rapuh terhadap kritik atau kegagalan. Mereka bisa terlihat sombong dan merasa lebih superior dibanding orang lain.
Berikut beberapa ciri orang dengan NPD:
- Superioritas: Mereka merasa lebih baik dari orang lain.
- Fantasi kesuksesan: Terobsesi dengan kesuksesan, kekuasaan, atau kecantikan.
- Eksploitasi: Cenderung memanfaatkan orang lain tanpa peduli perasaan mereka.
- Kurangnya empati: Sulit memahami perasaan orang lain.
- Iri hati: Mereka merasa orang lain iri kepada mereka, padahal seringkali itu justru perasaan mereka sendiri.
Menghadapi orang dengan NPD memang melelahkan, apalagi jika mereka adalah atasan atau rekan kerja. Tugas sederhana bisa berubah menjadi drama berkepanjangan hanya karena mereka ingin menunjukkan superioritas mereka. Lantas, bagaimana cara menghadapinya?
- Minimalkan interaksi: Jika memungkinkan, hindari interaksi yang tidak perlu.
- Tetap tegas: Saat harus berinteraksi, ajukan pertanyaan langsung yang membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak" untuk mempercepat solusi masalah.
- Jangan terlibat dalam drama: Fokuslah pada tujuan akhir, yakni menyelesaikan masalah, bukan mengikuti alur permainan ego mereka.
- Sadari batasan: Ketahuilah kapan harus mundur. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan berdebat atau mengubah pandangan mereka.
Pada akhirnya, yang terpenting adalah menjaga kesehatan mental kita sendiri. Jika terlalu banyak energi yang terkuras, ada baiknya mempertimbangkan kembali apakah interaksi tersebut memang layak untuk diteruskan.
Tetap kuat dan semoga kita bisa selalu belajar dari setiap pengalaman!
Belajar dari Kisah Tragis Nizam: Renungan untuk Kemanusiaan
Pagi ini, sambil menyeruput kopi, saya ingin membagikan kisah yang sempat ramai di media. Beberapa hari yang lalu, saya menonton podcast Denny Sumargo (Densu), yang kebetulan membahas kisah tragis dari Pontianak yang mungkin sudah kalian dengar. Kisah tentang seorang anak bernama Nizam, yang meninggal dunia dengan cara yang sangat tragis akibat kekerasan dari ibu tirinya.
Mungkin ada di antara kalian yang pernah mendengar berita tentang Nizam, anak berusia 6 tahun yang menjadi korban kekejaman ibu tirinya. Berita ini sempat tenggelam di media, hingga akhirnya Densu mewawancarai orang tua Nizam dan mulai mengungkapkan lebih banyak detail tentang kejadian ini.
Kisah Tragis yang Terungkap
Nizam, yang tinggal bersama ayah dan ibu tirinya di Pontianak, meninggal dunia akibat kekerasan yang dilakukan oleh ibu tiri. Ayahnya sempat mengatakan bahwa sebelumnya semuanya berjalan baik-baik saja. Namun, beberapa hari sebelum kejadian, ia melihat ada memar di pelipis Nizam. Ketika ditanya, Nizam menjawab bahwa ia terbentur pintu. Jawaban yang sama juga diberikan oleh ibu tirinya. Sayangnya, hal ini tak ditindaklanjuti lebih lanjut oleh ayahnya.
Pada hari kejadian, ayah Nizam sedang berada di luar kota untuk dinas, dan Nizam ditinggalkan bersama ibu tirinya. Saat ayahnya berusaha menghubungi Nizam melalui telepon, panggilan tidak dijawab, yang semakin membuat ayahnya khawatir.
Sepulang dari dinas, ayah Nizam merasakan ada yang aneh. Biasanya Nizam selalu menyambut ayahnya dengan penuh kebahagiaan, tapi kali ini suasananya sepi. Ketika ditanya, ibu tirinya berkata bahwa Nizam telah dijemput oleh seseorang bernama Yogi, yang mengaku sebagai pacar ibu kandung Nizam. Namun, ketika ibu kandung Nizam dikonfirmasi, ia menyangkal mengenal Yogi. Dari sini, mulai terungkap bahwa ada hal yang sangat salah.
Fakta Mengerikan yang Terungkap
Setelah beberapa hari pencarian, akhirnya tubuh Nizam ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Dia ditemukan di dalam karung di tempat sampah dengan tubuh yang sudah membengkak, matanya hampir keluar, dan ada retakan di tengkoraknya. Kondisinya menunjukkan bahwa Nizam telah meninggal beberapa hari sebelumnya.
Yang lebih mengerikan adalah pengakuan dari ibu tiri yang tega mengunci Nizam di halaman belakang rumah tanpa makanan dan minuman selama hampir 24 jam. Setelah itu, saat Nizam masuk ke rumah, dia sudah dalam kondisi sangat lemah dan akhirnya tak sadarkan diri.
Hasil visum juga mengungkap bahwa Nizam mengalami pukulan benda tumpul di bagian belakang kepalanya, yang menyebabkan retaknya tengkorak dan membuat mata kirinya hampir keluar. Kejahatan ini jelas bukan karena kecelakaan seperti yang diklaim oleh ibu tiri, melainkan sebuah tindakan kekerasan yang dilakukan dengan penuh dendam.
Renungan untuk Kita Semua
Mendengar kisah tragis ini, kita semua perlu merenung. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengalami kekerasan sekeji ini? Sebagai orang dewasa, kita memiliki tanggung jawab untuk melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan, apapun alasannya.
Kisah Nizam juga mengingatkan kita untuk selalu peka terhadap tanda-tanda kekerasan, terutama pada anak-anak. Memar kecil atau perubahan perilaku mungkin saja adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang salah. Dan ketika kita melihat sesuatu yang tidak wajar, jangan diam saja. Segera ambil tindakan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
Kisah ini adalah pengingat yang pahit tentang pentingnya menjaga anak-anak kita dan memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Jangan sampai ada lagi Nizam-Nizam lain yang menjadi korban dari kekejaman orang-orang yang seharusnya melindungi mereka.
Semoga kita semua bisa belajar dari tragedi ini dan lebih peka terhadap perlakuan yang diterima anak-anak di sekitar kita.
Antara Anak atau Karir Ketika Dibenturkan
Buat guwe bekerja di sebuah company besar itu tantangan tersendiri. Apalagi bekerja di perusahaan multinasional dan bisa berkeliling, mendapatkan fasilitas kendaraan operasional. Jiwa seperti kembali muda. Akan tetapi guwe "terpaksa" melepaskan hal itu.
Ceritanya panjang. Bermula dari ketidaknyamanan yang ane rasakan ketika bekerja. Ane senang pekerjaan itu, meski ada satu dua tiga bahkan 100 hal yang tidak sesuai dengan SOP kerjaku, tapi ane masih bisa bertahan. Ketidaknyamanan itu berusaha aku diskusikan dengan Allah. Dan setelah 4 bulan merutinkan istikharah, guwe memutuskan keluar. Kok sampai selama itu? Karena aku belum menemukan kata mantap di satu pilihan. Anehnya setelah ane shalat istikharah, Allah memberikan banyak kejadian yang membuat ane makin tidak nyaman untuk bertahan. Sampai pada titik guwe tidak menemukan satu pun alasan untuk bertahan. Jadi keputusan itu bukan keputusan sehari dua hari.
Setelah resign, ane memiliki rezeki lebih dalam hal waktu kebersamaan dengan anak. Guwe tetap ingin bekerja di sebuah perusahaan. Oleh sebab itu guwe tetap apply sana sini. Bukan lagi perkara gaji, tapi guwe mencari perusahaan yang menghormati private life karyawannya. Guwe juga tetap apply posisi pekerjaan sebagai sales, kenapa? karena guwe mencintainya. Sebenernya guwe udah mengikuti program kursus data analyst. Sayangnya, guwe tidak bisa bohong, ane tidak menikmati pekerjaan tersebut. Buat pribadi kek guwe, terlalu stuck di depan komputer seharian itu menyiksa. Sehingga daripada aku dzolim terhadap diri sendiri dan perusahaan nantinya, ane memilih pekerjaan sales.
Ada beberapa yang tertarik dengan profile kerja guwe, tapi rata-rata pekerjaan tersebut jauh dari rumah atau harus keliling. Keliling dalam hal ini tu ga pulang bisa 4-5 hari per pekan. Tidak terbayang dalam benak saya untuk ninggalin anak selama itu. Akhirnya ane putuskan untuk mundur.
Ane tetap percaya bahwa Allah pasti akan gantikan pekerjaan dan fasilitas yang kemarin ane tinggalkan dengan yang lebih baik. Kan kata Rasul saw barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah ganti dengan yang jauh lebih baik. Bukankah guwe juga pernah membuktikannya beberapa tahun lalu?
Setelah hampir 7 bulan ane menganggur, dan belum ada satupun nemu yang klik, ane mendapat tawaran interview di Tangerang. Semua berjalan sesuai rencana, sampai hari keberangkatan. Ane berangkat jam 8 malam ke stasiun. sampai stasiun pukul 10 malam. Kereta berangkat pukul 10.30. Saat ane pamitan ke misua dan anak-anak, anak pertama si sudah biasa ya. Dia sering melihatku pergi kerja. Tapi yang di luar dugaan adalah ane melihat titik air mata di sudut mata anakku yang kecil. Seketika runtuh lah pertahanan hati. Ada perasaan tidak tega melihat anakku yang kedua ini. Anak yang perasa namun tidak suka mengungkapkan sesuatu dengan kata. Yap usianya sudah 5 tahun, tapi dia tidak terlalu banyak bicara.
Alhamdulillah keberangkatan ane batal karena terkendala vaksin booster. Besok paginya ane kembali bermain dengan anak-anak. Anakku yang kedua terlihat sangat riang melihat ane tak jadi pergi. Saat ini ane masih terus berdoa dan berusaha untuk melatih anakku ini lebih banyak bicara. Jujur, pertentangan batinku ada di sini. Ane baru sadar, bahwa anakku yang kedua sangat mengharapkan aku tetap di rumah. Seolah bilang, mamah di rumah aja main sama aku. Ane baru sadar, sejak aku bekerja kembali di usianya 1,5 tahun, dia menjadi jarang bicara hingga terakhir kali aku bekerja.
Meski sedih karena keinginanku berpetualang di company harus aku relakan, tapi bahagia karena anakku yang kecil lebih ceria dan riang setelah aku tidak bekerja. Di sinilah titik persimpangan bahwa aku ingin selalu nemenin dia. Aku merasa, Allah pun ingin aku lebih banyak di dekat anak-anakku. Bukankah pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua, tapi khususnya ibu? Karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya?
Ane takut kalau nanti ditanya sama Allah, kenapa aku menelantarkan anak-anakku. Sekarang aku bisa berdalih karena aku harus mencari nafkah. Tapi aku tak yakin ini alasan yang bisa diterima Tuhanku.
Ibarat kata aku kerja, aku dikasih tanggung jawab menjaga kebersihan area A. tapi karena area B tidak ada yang handle, aku pun ikut membersihkan area B. Sayangnya area A jadi terbengkalai. Kira-kira aku akan jawab apa pas ditanya bos?
Bos : "Loh bukannya saya suruh anda membersihkan area A?"
Me : "Maaf bos, area B tidak ada orang jadi saya ke area B"
Bos : "Area B bukan tanggung jawabmu, saya yang bertanggung jawab di situ. saya yang akan mengutus orang untuk membereskan area B. Kamu boleh bantu, tapi tidak lantas membuat areamu sendiri terlantar"
Kira-kira bos itu berhak marah ga? Bukankah Allah bisa saja seperti itu? Bagaimana aku kembali kepada Tuhanku sementara tugas utamaku kacau demi membereskan yang bukan tugas utamaku? Bagaimana mungkin aku mengejar makanan penutup dan mengabaikan makanan utama?
Bagaimana pertanggungjawabanku nanti?
Pikiran-pikiran itu lah yang selalu berkecamuk di kepala. Allah sudah jamin rezeki kita, jangan karena takut kehilangan rezeki kita mengabaikan tugas utama yang diberi Allah ke kita.
Karir adalah kebanggan dan kesenangan egoku, tapi anak adalah amanah dari Allah, ada hak Allah di sana. Bagaimana bisa ane mengalahkan hak Allah demi hak ego ku? Gimana nanti aku menjelaskan kepada Rabb ku?
Wallahua'lam bishawab...
Law of Projection
Bayangin kita sedang menyiapkan file presentasi. Kita buka Ms Power Point, sekalian kita proyeksikan ke layar putih. Layar presentasi..
Ketika kita ketik A, keluar A. Ketik B, keluar B
Apa yg kt ketik, akan muncul ke layar presentasi
Begitulah hidup.. apa yg kt pikirkan, spt apa sudut pandang kt, bgtulah yg muncul d layar kehidupan.
Ketika kita menganggap sesuatu itu musibah, keburukan, ya begitulah yg kita terima. Bukankah Allah sesuai dg prasangka kita?
Ketika "hutang" kita anggap sbg musibah, maka sepanjang usaha kt melunasi, akan terasa berat. Akan tetapi ketika kt mampu melihat hutang adl amanah, rezeki dlm bentuk pembelajaran, insyaAllah akan lebih enteng dalam melunasinya.
Paksakanlah untuk merubah sudut pandang dg merubah redaksional mjd lebih positif. Hutang = amanah, belum dapet kerja = dikasi waktu liburan, belum nikah/punya anak = sedang dipersiapkan jd psangan/ortu terbaik, jadi ibu rumah tgga = direkrut jd karyawan oleh pemimpin Alam Semesta (Allah red). Dll. Ada lagi?
Ketika kita berburuk sangka, itu pun sebuah dosa. Salah satu perisai (penghalang) rezeki adalah dosa. Jadi kalau ingin dilancarkan rezeki, berbaik kata lah, berbaik sangkalah. Jangan lupa ucapkan lah istighfar.
Berdoalah Sebagai Hamba, Bukan Sebaliknya
Me, "Ya udah sana ambil duitnya yang di tasmu buat beli gorio rio di depan"
boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Cara Menerima Diri Sendiri
Ada pertanyaan dari saudari kita di POGO FM, kak gimana ya cara menerima diri sendiri. Begitu ngebaca ane tersenyum. Bukan ngeledek, tapi ane pernah berada di posisi seperti itu. Struggling banget untuk menerima diri sendiri. Udah coba kayang kanan kiri, cari ilmu buku motivasi ujung ke ujung, baca buku psikologi dkk, tetap aja ada saat-saat tertentu ane merasa ga berharga, ga pantas untuk diterima, bahkan oleh diri sendiri. Rasanya? Lelah... Bener ga bil?
Sampai suatu ketika ane belajar tentang ilmu jiwa dari sudut pandang Quran dan Hadits, tentu dari para ulama ya, bukan ngarang sendiri, ane paham bahwa "mencintai diri sendiri itu sudah ada di dalam diri kita sejak lahir, sudah fitrah". Seperti halnya bayi, bahkan belum lahir sudah bisa merasakan kasih sayang, cinta, dkk.
Permasalahannya adalah manusia itu tidak hanya terbentuk oleh satu faktor, fitrah, tapi dari lingkungan juga. Pola asuh di saat kecil, bagaimana teman-temannya, circle nya, apa yang dia baca, apa yang dia lihat dalalm kesehariannya. Karena secara naluri kita akan memproses, dan membandingkan diri kita dengan lingkungan. Cara kerja jiwa atau alam bawah sadar tuh seperti itu.
Ada anak yang dididik dengan digadang-gadang menjadi orang besar. dibesarkan rasa percaya dirinya, sehingga dia merasa berharga. Tapi ada juga anak kecil yang dibesarkan dengan dibanding-bandingkan, dimotivasi dengan redaksional bahasa yang menyakitkan. "Noh lihat noh bla bla bla". Kalau usianya udah d atas 12 tahun si minim potensi minder. tapi kalau usia baru 5 th digituin terus tiap hari, dia mendewasa dengan rasa tidak berharga. Kalau di ilmu psikologi namanya self esteem. Anak ini mendewasa dengan jiwa yang minder. Orang minder tidak selalu terlihat murung, atau pendiam lo ya, tapi jiwanya selalu merasa kalah sebelum mencoba, atau jiwanya merasa tidak pantas untuk disayangi. Bisa karena dia ga cantik, ga pinter, ga kaya, ga punya karir, dkk. Karena itu yang dia konsumsi setiap hari.
Ane pun sampai saat ini masih belajar, dan terus belajar. Tapi kalau boleh berbagi gimana caranya ane bisa lebih menerima diri, sederhana menerima Allah sebagai Tuhan. Ada di dzikir pagi & petang.
ุฑَุถِْูุชُ ุจِุงِููู ุฑَุจًّุง، َูุจِุงْูุฅِุณْูุงَู ِ ุฏًِْููุง، َูุจِู ُุญَู َّุฏٍ ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู َ َูุจًِّูุง
Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.
Artinya:
“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi.” (Dibaca 3 x) Sumber https://rumaysho.com/1636-bacaan-dzikir-pagi.html
Ini adalah tujuan hidup, dan ga cuma bisa diketahui, tapi dimaknai sampai akhir hayat hidup kita. Selalu hadirkan Allah di setiap peristiwa dalam hidup kita.
1. Selalu bertanya, Allah ridho ga ya?
2. Doa minta petunjuk, sholat. Akar kata sholat adalah shila yang artinya terkoneksi, terikat dan tak akan pernah terlepas. Jadi mulai benerin sholat, baik secara waktu maupun pemaknaannya. Ketahui artinya, ngaji dkk
3. Ngaji tentang sunnah. Menjadikan Rasulullah saw sebagai role model.
Semakin kita tunduk sama Allah, merendah di hadapan Allah, Allah akan angkat derajat kita. Allah akan buat kita mencintai diri kita. menerima diri kita. Siapa si yang Maha Membolak Balikkan Hati, Allah. Mudah bagi Allah. Fokuslah ke Allah, Allah akan fokus kepadamu.
Dua hal aja, iman dan ilmu. Selalu merasa diawasi oleh Allah. Ane secara pribadi, ketika galau ga tau kudu gimana, ane minta ke Allah agar diberi petunjuk.
Kadang dikasi tahu secara langsung ketika baca Quran, ayat yg relate dengan kondisi kita, bikin kita tenang. Kadang kalau lagi dapet, Allah tunjukkan kajian kajian yang sesuai, tanpa ane nyari. kadang ane dikasi ilham agar search keyword tertentu. Atau ada kisah dari orang lain yang membuat hati kita ingat sama Allah.
Hasbunalloh wani'mal wakiil... cukup bagi kita Allah, maka Allah membuat diri kita merasa cukup.
Bukankah orang paling menderita bukanlah orang yang miskin secara harta atau dunia? Tapi orang yang tidak punya rasa cukup?
Orang yang berbahagia adalah orang yang selalu merasakan kelapangan meski dalam kondisi sempit. orang yang menderita adalah orang yang selalu merasa kurang meski dia dilebihkan secara dunia?
Pointnya bukan tentang kita, pointnya, apakah kita sudah perbaiki hubungan kita dengan Allah? Sudahkah kita merasa cukup dengan Allah?
Tips ane agar selalu merasa diawasi oleh Allah, Selalu merasa diawasi Allah, bahwa setiap kejadian itu dikirim Allah ke kita, agar kita selalu merasa Allah melihat, Allah dekat
1. Doa - agar hati selalu ingat Allah, agar hati kita bertujuan ke Allah, pulang ke akhirat
2. Baca dzikir pagi petang
3. Sholat tepat waktu
4. Puasa
5. Jaga wudhu
6. Konsisten, pelan-pelan satu satu.
7. Jaga circle, filtering. Mana yg mendekatkan kamu dengan Allah, mana yang melalaikan. Yang melalaikan unfollow, yang mendekatkan follow
Allah Jawab Keraguanku
Guwe berharap tidak ada yang baca tulisanku ini sebelum tanggal 14 Maret 2023. Loh kenapa? Karena aku ada rencana interview kerja di salah satu perusahaan Jerman di Indonesia. Aku kadang malu kalau mau cerita kisahku, pertama ane takut hatiku goyah jadi menikmati spotlight dari audiens, kedua ane takut ada yang hasad terus ngirim ain ke guwe. Finally, rencana gagal, bisa jadi malah jadi dosa karena riya.
Jujur aku tuh udah ga apply2 kerjaan sekitar 2 mingguan. Udah ga terlalu ngarepin juga untuk dapat pekerjaan. Fokus ane mau jualan jajanan aja buat menyambung hidup. Sama seperti dulu, jual snack seribuan di SD dekat rumah. Jadi pas dapet telepon dari Singapura tentang salah satu lamaranku, aku udah lupa. Yang mana ya?
Tapi aku tetap jawab pertanyaan-pertanyaan headhunter itu dengan sebaik mungkin yang saya bisa. Ini tu seperti oase di tengah gurun. Karena apa? Karena sejatinya aku menyukai bekerja di sebuah perusahaan besar. Ya dengan tantangannya sendiri-sendiri. Ga tau kenapa, seneng aja gitu. Bahkan politik kantor pun aku nikmati. yang paling tidak bisa aku terima kalau pekerjaan saya secara langsung membuat konsumen kecewa. Pekerjaan saya membuat konsumen rugi. Singkatnya mendzolimi customer lah. Aku bukan tipe orang yang maksain kalau jualan. Karena aku juga ga suka dibuat ga nyaman oleh para sales atau penjual. Prinsip ane satu, jual beli itu harus ridho di kedua belah pihak, baik pembeli maupun penjual. Ini sesuai sabda Rasul saw juga kan? Hikmahnya ini akan membangun sebuah long term relationship dan secara tidak langsung membentuk sustainability untuk perusahaan.
Akhirnya aku ditelepon lagi oleh pihak perusahaan dan diberi waktu untuk interview lanjutan secara offline alias tatap muka. Dimana? Di Tangerang. Butuh kurang lebih 500 km untuk mencapai lokasi. Aku langsung memikirikan beberapa alternatif cara untuk mencapai ke sana, berikut biayanya. Hehehe, maklum sampai detik ini aku belum ada income. Jadi kudu dihati-hati sekali.
Alternatif pertama adalah aku ke sana bareng anak-anak dan suamiku naik mobil. Ini bisa sangat lelah, dan aku ga akan fokus. Emang si plusnya adalah aku bisa tetap bareng sama bocils. Tapi sepertinya pengorbanannya terlalu banyak, apalagi Fathir sudah sekolah. Belum lagi kalau nginap di hotel, waduh bisa-bisa habis 2 juta pulang pergi. Pikirku ini masih tahap awal banget, masih ada 2 interview lagi jikalau lolos. Jikalau lolos ya. Uang 2 juta ini bisa untuk hidup 2-3 minggu atau bisa buat reparasi motor butut satu-satunya. Jadi kuputuskan untuk dropdown opsi ini.
Alternatif keuda adalah aku naik bis. Ane ga perlu ke Semarang dulu tapi langsung bablas ke Tangerang. Tapi temenku yang di Bekasi tidak menyarankan karena rute ke Jakarta macet banget akhir-akhir ini, walaupun malam hari pun. Hm... aku bingung. Karena kalau ke semarang dulu, butuh 200-300 ribu untuk sekali jalan. Artinya kalau antar jemput butuh 600rb. Belum tiketnya ya kan? kurang lebih 200-300 ribu juga.
Udah deh aku tinggal tidur malam itu. Daripada pusing ya kan? Kalau jatahku bisa sampai ke sana, pasti Allah tunjukin jalan. Paginya aku masih belum cari-cari jalan, tapi kok nonton maps rasanya jauh banget yah. Mulai muncul rasa ogah. tapi aku udah ngiyain, ga boleh hanya karena mood terus batal. Childish banget kan?
Tapi aku ga menafikan kekhawatiran-kekhawatiran mulai muncul. Gimana nanti anak-anak kalau aku diterima kerja? Gimana kalau nanti aku tidak bisa lagi sholat seperti sekarang? Gimana kalau aku lupa sama Allah? Gimana kalau Fathan marah kalau aku kerja lagi? Kutepis dengan satu kalimat, "Halah, belum tentu juga kamu diterima". Duh ngakak deh kalau inget statemen hatiku yang itu. Bener juga ya, ngapa guwe overthinking.
Ngarepin diterima, tapi takut kalau diterima jadi ga bebas. Ga jelas banget ya. Tidak sengaja aku menemukan salah satu postingan di instagram. Tentang doa bagi mereka yang mau bepergian jauh, dan doa untuk orang-orang yang ditinggalkan. Aku berasa diperhatiin sama Allah. Aku berasa keraguan dan doaku terjawab. Aku sempat ragu dan minta petunjuk sama Allah, ya Allah jikalau Engkau menginginkan saya mencoba tolong dimantapkan, tapi jikalau ini tidak baik untukku tolong gagalkan dan hilangkan keinginan untuk diterima dari hatiku, biar ga sayang duitnya. hahaha. Tetep ya.
Kira-kira postingan yang membuatku tenang adalah ini :
Jujurlah Atas Keinginanmu, Niscaya...
Niscaya apa hayoo...
Niscaya Allah pasti akan wujudkan keinginanmu itu. Pertanyaannya adalah, jujur atas keinginan kita tu gimana?
Simpel si memahaminya, jujur itu berarti semua sinkron, antara hati, lisan, sikap. Hatimu bener-bener menginginkan, sehingga lisanmu tergerak untuk berdoa. Bukan itu aja, saking pinginnya kamu pun berikhtiar, bukan dunia dulu justru, tapi ikhtiar dalam mewujudkan ketaqwaan. Kalau ikhtiar dunia, misalnya lu pingin ke univ x y z, itu mah pasti kamu bakal belajar, itu mah kewajiban ya.
yang sering dilupakan oleh kita adalah ikhtiar ketaqwaan. padahal ini terpenting karena ini sbg wujud, ini lo yang mewujudkan impian adalah Allah.
Ada orang yang bilang aku miskin banget nih, aku sakit banget nih, tapi dianya ga bergerak. Dia pingin banget bisa dapet kerjaan, eh tapi dianya ogah2an, suruh ibadah males, berarti keinginannya hanya anget anget tahi ayam. Keinginannya ga besar, tidak sampai menggerakkan badannya untuk tahajjud, puasa sunnah, sedekah, dhuha, shalat tepat waktu, shalawat, dkk. Gimana bisa dia konsisten dalam berikhtiar yang lain-lainnya?
Jujurly, personally, kalau sekarang ikhtiar ketaqwaan terberat bwt guwe adl puasa sunnah. hihihi. Gw ga tahu ya kalian gmn, kan beda orang beda ujian. Tapi sependek usiaku, puasa itu paling berat. Tapi karena berat, beuh pahalanya besar banget. Saking besarnya pahala, nanti di akhirat Allah sendiri yang bakal kasih hadiah itu ke kita. Saking spesialnya.
Ngomongin soal puasa sunnah, ane mau share sesuatu.. Ini kisah.
---
Sebenernya banyak lo kisah2 seeprti. di jamanku, jaman orang tua, mbah mbah di jawa, puasa sunnah itu sudah biasa, sudah jadi budaya ketika kita punya keinginan atau hajat. Banyak orang yang menyebutnya dengan tirakat, prihatin dkk. Jaman dulu pengetahuan ttg agama memang masih minim, tapi kalau soal pengamalan, masyaAllah. Banyak banget orang yang sudah membuktikan kedahsyatan dari puasa.
Guwe sendiri pernah ngalamin. Dan lucunya guwe baru ngeuh sekarang, padahal kejadian udah dari jaman kuliah. Berarti 15-18 th lalu ya. Dulu gw kuliah di UGM, 3 jam naik motor dari rumah. Ngekos lah ya. Masa iya bolak balik. Uang saku guwe tu minim , ngepress banget. 300rb per bulan, kudu mikir makan, uang kos, bensin, pulsa, keperluan kuliah. Pokoknya gimana cara kudu cukup. Bayangin di tahun 2005 duit segitu. bensin waktu itu 4.500. Sekali makan warteg sekitar 10rb. Mau ga mau gw puasa daud. puasa selang seling. Dulu mah ga mikir gmn gmn, bkn krn ada hajat, ya terpaksa aja. wkwkw.
Baru ngeuh kalau banyak banget urusan yang dimudahkan Allah. Pas ga ada duit, eh ada orang kasih makan. sering banget lagi. Pas sepeda guwe ilang, eh ga berapa lama malah dapet motor, dikasi emak sih. Pas terusir dari kontrakan, eh dapet kos an yang pemilik kosannya udah kaya kakek nenek sendiri. Baek banget. Kalau masak apa, gw dikasih. Hidup tuh tenang. Yang paling ga masuk akal buat gw adalah, saat ujian skripsi. Jujur ya, skripsiku itu sederhana banget. kalah jauh lah ama temen-temen lain. sampe aku minder. Mana dosbing nya susah ditemuin, sekali ditemuin, irit bicara hahaha. Tibalah ujian skripsi, gw dapet dua orang dosen penguji yang subhanalloh terkenal pinter tapi killer, mana kalau ngomong tuh nada tinggi. Hadoh. Udah deh bisa dibabat abis, skripsi apaan nih kayak anak TK hahaha.
Tapi anehnya ketika ane ujian, mereka woles dan tenang. Revisinya pun ga susah. Ga disuruh ganti judul. Yang ngmong malah temen guwe, bilang ih kok enak banget ujianmu ya. Gampang banget ujiannya. Aku mengakui si, kayak mudah. Ak sempet insecure, jangan2 mereka ga mudeng, atau mrereka kasihan sama aku.
Dalam hati aku cuma berharap ga dapet C, walaupun pesimis kalau dapet B. You know what? dapet nilai apa? A dong, masya Allah. guwe baru ngeuh juga, mungkin salah satu yang bikin Allah ridho krn puasaku. Walaupun awalnya karena keterpaksaan.
Sayangnya, habbit puasa daud yang udah gw konsistenin selama 2-3 tahun saat kuliah itu, lambat laun memudar begitu guwe masuk ke perbankan. Dulu ya, sekarang udah ga. Kalau kalian mau, nanti aku ceritain pengalaman gw masuk ke bank, keluar ke bank, perjuangan setelah keluar dari bank. hehehe ktatan mau di kolom komen ya.
Dari banyaknya contoh kasus, terutama anak-anak jaman dulu, sebenernya poinnya bukan di amalnya. Jangan pernah bersandar pada amal, bukan krn puasa kita, bukan krn shalawat kita, atau tahajjud kt, atau ibadah2 kita yang membuat hajat terkabul. Tapi karena Allah berkenan mengabulkan. Toh kt bisa beramal juga karena diberi kekuatan oleh Allah.
Intinya adalah kalau ingin hajatmu terkabul, perbaiki hubungan kita dengan Allah. makin berjuang, makin berkorban, insyaAllah makin dhargai oleh Allah. bukankah kita mendekat ke Allah sejengkal, Allah akan mendekati kita berlari?
sama kayak kita mau pdkt dg gebetan. Kita pasti berjuang kan? masalahnya yang pingin deketin dia ga cm kamu, tapi ratusan orang. Apakah usahamu akan sama dengan mereka, atau kamu kasih sesuatu yang spesial dimana orang lain ga lakuin? pasti kamu pingin lakuin sesuatu yg spesial, yang bermakna dan berbeda dari yang lain kan? Biar perhatiannya ke kamu?
sama juga ke Allah. shalat wajib, udah banyak yang begitu. tapi ibadah sunnah, contoh tahajjud, puasa sunnah, beuh berat bro. kalau puasa wajib mah biasa aja kali. kenapa? kalau wajib pasti banyak yang lakuin, wlpn cm sekedar menggugurkan kewajiban. Tapi kalau yang ibadah sunnah, kalau kalian ga strong willing, ga kuat motivasinya, mana mau. gedean mager nya kan? tahajjud? mending bobo mbak. puasa sunnah? duh berat mba ga ada temennya.
disitulah ketahuan mana yang niat beneran, dan mana yang boongan. Jadi jujurlah atas keinginanmu, pasti Allah akan kabulkan. Jujurlah , gigihlah, dan sungguh2lah dalam ketaqwaan.
At talaq 2-3 barangisapa bertaqwa kepada Allah, pasti akan diberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka. alias ajaib. kalau ga percaya, praktekkin deh puasa sunnah, senin kamis, atau daud. dan tahajjud. Semoga membantu.
Agar Kau Beruntung
Apa definisi gagal buatmu? Apakah ketika gagal kamu merasa tidak berharga, merasa bersalah dan tak cukup baik? Andai saja anu, andai saja ini?
Menurutmu apa penyebab kegagalan? kurangnya ikhtiar? kurangnya doa?
Kenapa banyak generasi muda yang gagal meraih impian di jaman skg dibanding jaman dulu? Mungkin ada yang bilang bahwa karena peluang yang ada, jauh lebih kecil dibanding ketersediaan sumber daya.
Hm.. mungkin menurut sebagian besar orang iyes, buat ane pribadi, kagak. Bukan cuma karena itu.
Kegagalan adalah ketika keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Walaupun ga semua, tapi ane melihat trend yang berbeda di jaman sekarang dan jaman dulu.
Anak-anak SMA jaman dulu kalau punya harapan, itu auto doa, bergantungnya ke Allah, ibadah sekencang mungkin, dan belajar mati-matian. Tapi mereka sangat bergantung dengan doanya. Mereka diberikan keinginan yang bukan ecek2, tapi bukan yang muluk2. Sedangkan di jaman sekarang, keinginan itu setinggi gunung, iya doa sih, tapi ga diikuti dengan taqwa. Jaman dulu mayoritas temen-temen ane tuh puasa senin kamis, puasa daud, tahajjud, dhuha 12 rakaat, sholat sunnah, sedekah, dkk. Itu bukan hal yang wow, biasa aja di jaman dulu. Coba di jaman sekarang, dikira sok alim, dinyinyirin, alah ngapain si, kan Allah ga kasih kontan ke elu.
Kata Allah orang yang jujur dengan keinginannya pasti Allah kabulkan keinginannya, pernah denger hadits itu ga? Nah orang yang jujur, doa dari hati, ga cuma ikut-ikutan, beneran pingin, dia buktikan dari perkataan, dia buktikan dengan ketaqwaan, dan ikhtiar terbaik. Jadi habis tahajjud mereka belajar, ikut les sana sini. Sesibuk itu dalam mengejar keinginan, sampe ga sempet overthinking.
Ingat at talaq 2 - 3, yang bertaqwa maka Allah akan adakan untuknya jalan keluar?
Walaupun jaman dulu mungkin pengetahuan ayat mereka ga seperti sekarang, tapi mereka total percaya Allah yang mengabulkan keinginan.
Aku sering mendapat Dm dari temen-temen, mereka berkeluh kesah, punya ujian hidup, misalnya utang, merasa berat, tak kasi tahu caranya shalawat, puasa, shalat tepat waktu. Dia bilang iya. Tar seminggu atau sebulan kemudian datang lagi ngeluh2. Kutanya, gimana dengan shalawat dan shalatnya? Eh ngeles2, belum bisa konsisten. Katanya ujian idup berat, kalau berat kok ga segitunya menggerakkan hatimu untuk total dalam berdoa, ga menggerakkan lisanmu untuk bershalawat, ga menggerakkan sendimu untuk shalat. berarti bebanmu ga seberat itu. Kalau berat, kamu pasti sangat ga nyaman dan sudah sangat tidak betah untuk berdiam diri. Kamu udah ga sempat lagi berkeluh kesah ke manusia. Beneran!
Orang yang sakit, dan sakitnya beneran sakit, dia ga akan mampu mengeluarkan kata-kata. saking sakitnya. sampe ga bisa ngomong. kalau orang sakit katanya sakit babget, masih bisa apdet status, ya berarti sakitnya B aja. Ga seberat itu.
Menurutku jaman dulu orang kalau punya keinginan lebih jujur, Allah beri rahmat, Allah karuniakan keinginan yang memang itu jatah rezekinya. Jadi Allah sudah kabulkan keinginannya sebelum keinginan itu terkonversi jadi doa dari lisan kita. Tinggal kitanya gigih atau ga.
Kalau anak-anak jaman now, dikit dikit pingin2. dikit2 pingin hahaha. Kaya anakku ajah. Habis liat apel di tv, langsung pengen beli apel. Kadang puasa mata perlu juga deh. puasa dari sosmed dan kemewahan. jadi ga auto ngebandingin diri dengan orang lain.
Jadi kalau punya keinginan, coba cek dulu deh, ini keinginan jujur, atau ingin-ingin iseng doang? Soalnya yang iseng kalau keinginan doang yang dipupuk makin gede, tapi ga diimbangin dengan kejujuran tadi, ya jadinya tersiksa doang. Akhirnya dikit2 gagal, dikit2 gagal.
Doa agar diberi petunjuk, diberi keinginan sesuai dengan apa yang Allah inginkan, bukan yang kita inginkan.
lalu iikuti dengan taqwa yang total, lalu ikhtiar dunia yg juga optimal. Terakhir, tawakkal. Ketika keinginan yang itu belum tercapai, Allah sedang mengantarkan kita ke keinginan yang jauh lebih baik dan besar yang Allah ridhoi.
Ketika Allah menutup satu pintu, Allah akan bukakan pintu-pintu lain yang lebih tepat. Percaya deh.
Menjawab Pertanyaan Kenapa Jasa Ngobrol Self Healing Ria Ditutup
Sebelumnya ane ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang telah percaya untuk berbagi kisah dan keluh kesah sama ane. Sebenernya butuh waktu kurang lebih 3 tahun pada akhirnya ane memaksakan diri membuka jasa ngobrol secara official.
Entah kenapa orang tu senang ngobrol dan curcol dengan ane. Bukan akhir-akhir ini, ya sejak dari SMA (2002) or kuliah (2005). Awalnya circle kecil, lalu melebar. Sampai tahun 2019 ada senior ku di kerjaan bilang, Mba Ria tu face nya bikin orang jadi pingin nyampah, maksudnya pengen berkeluh kesah. Aku ketawa aja waktu itu.
Ane belum mulai ngonten waktu itu. Instagram pun masih privat. Kuberanikan diri untuk ngonten di instagram, tanpa menampilkan wajah. Tujuan utama ngonten sederhana, ane kasihan kepada teman-teman yang mungkin pernah mengalami kegelisahan sama namun merasa sendirian. Itu kan rasanya ga enak banget ya.
Mulailah ane membuat konten tentang Self Healing dan karakter golongan darah. Bukan bertujuan mencari follower, bukan kepengen terkenal, tapi agar Allah makin dikenal. Mostly konten2 ane berasal dari pengalaman pribadi yang udah bisa diambil hikmah dan rumusannya. Termasuk konten karakter golongan darah pun tujuannya cuma satu, biar kita paham bahwa tidak ada dua manusia yang sama persis. Orang lain berbeda dengan kita. Memahami hal ini setidaknya membuat kita lebih bisa menerima perbedaan sifat/watak.
Tantangannya? Beuh subhanalloh kak. Meski ceplas ceplos, tapi saya tak pernah ada niatan menjatuhkan atau merendahkan orang lain. Sedangkan di sosmed, Subhanalloh, orang tu kadang ngomong ga dipikir. Padahal saya orangnya pemikir. ๐
Namun di sisi lain ada juga yang DM menyampaikan rasa terimakasih. Alhamdulillah, saya lebih fokus ke teman-teman yang menguatkan ini, bukan yang sebaliknya. Lambat laun makin banyak follower, dari 10 biji follower yang itu pun akun-akun ane juga, menjadi lebih dari 3rb an sekarang.
Saya selalu anggep teman-teman yang DM itu kayak temen lama. Ga ngegap, ga berjarak, kalau bisa saya bantu, ya bantu, walaupun itu cuma hati dan telinga yang mendengarkan. Waktu itu kebetulan pekerjaan saya belum terlalu menyita waktu. Jadi saya masih sempat membalas satu-satu. Ada yang cerita kegiatannya, tentang calonnya, tentang bosnya, tentang ortunya, bisa dibilang setiap hari. Ada juga yang setiap kali overthinking, hubungin saya.
Lama-lama kuantitas teman-teman yang cerita semakin banyak. Kebetulan ane mengurus anak sendiri, kerja, urus rumah juga, jadi mulai kelimpungan. Beberapa teman nyaranin untuk buka jasa konsultasi. Tapi jujur, saya ga nyaman kalau harus "meminta" imbalan atas jasa dengar saya. Tapi di sisi lain sudah banyak request yang ingin ngobrol. Akhirnya ane beraniin diri memasang nominal. Niatan yang pertama, agar terfilter siapa saja yang beneran butuh ngobrol dengan saya, yang kedua, sebagai kompensasi waktu`bersama anak anak yang ane korbankan.
Fyi, saya tipe emak yang bahasa kasihnya adalah kebersamaan waktu. Jadi saya merasa mencintai anak-anak jika bisa membersamai mereka. Jadi, waktu bersama mereka menjadi prioritas utama.
Ada beberapa teman online yang sampai berkunjung ke wa jg, karena dulu saya sempat share nomor wa di sosmed. Diantaranya janjian ngobrol, atau pembelian buku golongan darah B, ada juga yang curhat langsung. Ada lebih dari 300 nomor baru masuk.
Akhirnya, dengan berat hati ane tutup jasa dengar yang saya buka hampir setahun terakhir ini. Ane tutup bukan karena habis diserang buzzer nya rina nose, karena ane tutup seminggu sebelum peristiwa itu terjadi. Kedua, bukan karena ane bosen atau ngap, jujur ane seneng ndengerin orang cerita.
Tapi ada beberapa alasan, diantaranya :
- Rasa ga nyaman ketika minta "harga" kompensasi ternyata ga hilang2. meski bagi sebagian logika manusia itu gapapa, wajar. Tapi hati ga bisa boong. Merasa bersalah. Mendengar cerita orang, memberi nasihat dan solusi, itu bagian dari hal yang bikin ane happy. Masa ada orang lagi butuh pertolongan, malah dimintai duit? jadi kadang ada yang curhat, tetep ane tanggepin. Begitupun ketika waktu ngobrol lebih dari sesi yang sudah ditentukan. Ane suruh mereka terusin, gapapa yang penting mereka plong.
- Agama adalah nasihat, keinget para kiai dan habib didatangi banyak jamaah pada curhat, mereka ga pernah minta uang sepeserpun. La siapa saiah??
- Alasan anak-anak. Saya ingin mereka mengurangi konsumsi HP. Prinsip ane, kalau pingin anak-anak ngurangin HP, ya mulai dari kita dulu. Biar omongan kita ga mentah.
Masa masih nanya kek gitu, kayak kita ga punya Allah aja.
“Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rezekinya”. (QS. Hud: 6)
JURUS KERANGKENG UANG
Memecahkan sihir dari market (hypnoselling), 10 pertanyaan utama sebelum membeli barang
- Apa sudah ada rencana beli?
- Apa sudah ada cashnya? (Jangan ngutang)
- Ini kebutuhan atau keinginan? (Butuh - primer, ingin - gaya)
- Kalau ga beli, bahaya ga?
- Apakah ada produk atau jasa pengganti yang lebih ekonomis?
- Apakah ada cara lain yang lebih ekonomis?
- Bisa ditunda ga?
- Apakah bisa menghasilkan more money setelah pengeluaran ini? (Berfikir produktif)
- Memberi manfaat permanen atau sesaat?
- Jangan bawa cash (tunai).
PECINTA TAK PEDULI SOAL HASIL
Seorang pecinta bola klub REAL MADRID ditanya oleh temannya.
Teman : Lu nonton pertandingan Madrid vs Juve tadi malem?
Pecinta : Nonton dong.
Teman : Beuh, gw tidur. Kenapa lu ga nonton siaran ulangnya aja? Highlight goalnya aja?
Pecinta : Beda dong rasanya
Teman : Berapa skornya?
Pecinta : Madrid kalah 2-0
Teman : Yah, kecewa guwe
Pecinta : Guwe bangga
Teman : Hah, kok bisa? Kalah 2-0 loh
Pecinta : Kalau lu nonton dari awal ampe akhir, meskipun kebobolan, mainnya MADRID bagus banget
See? Orang yang mencintai sesuatu, tidak peduli hasilnya. Dia mencintai prosesnya.
Begitulah orang yang cinta kepada Allah, dia tidak peduli hasil dunianya. Dia akan selalu mencintai proses ujian kehidupan. Karena setiap ujian mengingatkannya kepada Allah swt.
Jikalau kita cinta kepada Allah, maka Allah akan berikan kelezatan menuntut ilmu. Kelezatan ngobrolin Allah dan Rasul-Nya. Ilmu akan mengantarkan kita kepada iman.
Tujuan hidup kita ada di Quran Surat Al Asr,
Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
Setidaknya ada 4 hal yang harus kita perhatikan :
- Iman
- Amal
- Dakwah
- Sabar
JUJUR DALAM DOA
ALLAH Memberi Dunia Tanpa Kau Minta
Kalian tuh punya nggak sih saudara atau teman yang apikan banget. Apikan itu baik banget. Kalau main ke sana tuh lu nggak usah khawatir tentang perasaan lo, merasa tersakiti atau merasa nggak nyaman, plus ketambahan perut lo aman karena disuguhin semuanya. Dari meja kursi. Ga deng. Maksudnya disuguhin semua makanan yang dia punya bahkan ketika lu pulang masih dibawain oleh-oleh.
Tiktok | Karakter Golongan Darah https://tiktok.com/@riamarliana87
CURHAT BUKANLAH PERTANDINGAN
Masih tentang Tegar Ramadhan, mahasiswa baru UGM yang meninggal dunia karena bunuh diri melompat dari lantai 11 salah satu hotel di daerah Yogyakarta.
Aku tertarik bagaimana netijen kita menilai tentang mental illness. Luckily, subhanallohnya, banyak yang gagal fokus. Benarlah bahwa Indonesia darurat empati. Banyak dari mereka justru membandingkan nasib Tegar dengan diri mereka. Mereka bilang, saya lebih berat tapi tetap bisa bertahan.
Ini salah satu alasan saya membuat podcast Self Healing. Setidaknya bisa memberimu pengertian, bahwa kalian yang terkena depresi, terkna mental issue, tidaklah sendiri. Kamu bukan satu-satunya, dan kamu bukan orang aneh yang harus disingkirkan dan diperlakukan berbeda.
Perjalanan Self Healing Tiap Orang Beda-beda
Baru saja aku membaca trending topic tentang video Marshanda dan iklan batik. Corak batik itu indah banget. Dia bilang bahwa corak batik itu tergenerate dari brainwave isi kepalanya. Dan ternyata isi kepala orang dengan mental dissorder, atau gangguan psikis, tidak semengerikan kelihatannya.
Aku senada tentang hal tersebut. Perjalanan mental health (kesehatan mental) seseorang itu berbeda-beda. Begitupun perjalanan Self Healing.
Episode Self Healing itu Gini
di #HariKesehatanMentalDunia ini, TikTok mengajak kamu untuk #SeeingTheUnseen dan bantu hilangkan stigma pada #KesehatanMental ๐
— TikTok Indonesia (@tiktokIDN) October 10, 2022
lihat indahnya motif unik batik dari Bipolar Disorder survivor Marshanda dan teman-teman mental health survivor lainnya ๐ซถ
๐ก https://t.co/Hs0e61Dar0 pic.twitter.com/pgPk52eamB
Ketika Kamu Dihina
Nabi Isa semakin dihina, semakin santun. Muridnya penasaran & bertanya, "Semakin bertambah pedas ucapan mrk kpdmu, koq semakin bertambah santun ucapanmu kpd mrk. Apa tidak membuat mrk semakin berani mnghinamu?"
— Muhammad Zaki Mubarak ๐ฎ๐ฉ (@zaki_elqattamy) November 9, 2018
"Setiap org hanya sanggup mmberikan apa yg dia punya." jawab beliau. pic.twitter.com/tEZYBwgEKx
Berdamai Dengan Trauma Masa Lalu
"Kalau tau bahwa sosok ibu seperti ini, aku ga mau jd ibu. Mending childfree aja."
Tau ga sih semua orang itu mengalami trauma, beda stadiumnya aja. Trauma stadium 4 membuat kamu takut punya anak, takut jatuh cinta lagi, nikah lagi, dan lain sebagainya.
Semoga episode kali ini membantumu berdamai dengan traumamu.




